Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan

Mei 17, 2011

PERSAUDARAAN DAN PENGASUHAN, ETIKA MILENIUM BARU


         Milenium Baru datang setetes demi setetes, bukan untuk ditakuti dan ditaklukkan, bukan untuk conquering. Kosa kata komunitas manusia sudah terlanjur terpenjara dan sudah terlalu lama dihegemoni oleh kegiatan merebut dan menaklukkan. Olehnya, kesulitan pertama yang dihadapi oleh manusia dalam merumuskan etika milenium baru, justru pada kesulitan semantik. Sedemikian sulitnya, seorang mahaguru emeritus bernama Charles Birch mengandaikannya sebagai kesulitan dalam “menyimpan anggur baru dalam wadah anggur tua”. Manusia memerlukan wadah baru untuk menerima etika baru. Olehnya, manusia memerlukan kosa kata baru untuk merumuskan paradigma baru, mengganti paradigma conquest menjadi paradigma nurturance, menukar etika penguasaan (the ethics of dominion) menjadi etika pengasuhan (the ethics of  stewardship).

            Sebagai suatu fenomena milenium baru, peralihan dari etika penguasaan ke etika pengasuhan telah digarisbawahi oleh pakar masa depan John Naisbitt dalam buku Paradoks Global. Bagi Naisbitt, akan muncul etika yang bersifat global dalam abad ke-21, yang terdorong oleh globalisasi pasar dan perkembangan teknologi informasi. Keizo Yamaji, seorang eksekutif Canon, malah menganggap milenium baru sebagai era “megamoralitas”. Bagi Yamaji, etika milenium baru akan melengkapi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh revolusi Perancis. Jika etika kapitalisme mengutamakan kebebasan (liberti), dan jika etika sosialisme memuliakan kesamaan (egaliti), maka etika milenium baru akan melengkapinya dengan “fraterniti” atau “persaudaraan”. Inilah semacam jalan ketiga yang oleh tradisi Jepang dirumuskan sebagai kyosei, dan oleh Indonesia dirumuskan sebagai gotong royong, rumusan yang sesungguhnya telah tersedia pada awal-awal kemerdekaan.

            Apakah perempuan ikut dalam brotherhood, dalam kyosei, dan dalam gotong royong? Di sinilah letak kesulitan semantiknya. Bahkan, etikawan lingkungan yang moderat seperti Robin Attfied menganggap bahwa “etika persaudaraan” itu sebagai etika yang antroposentris, etika yang mengunggulkan kepentingan manusia dan melihat alam hanya sebagai entitas yang bernilai instrumental. Oleh karenanya, Attfied mendukung etika stewardship, yang mungkin lebih baik kalau diterjemahkan sebagai etika “pengasuhan”.

            Semangat etika pengasuhan adalah altruisme dan bukan egoisme, semangat mendahulukan kepentingan primer pihak lain dan bukan kebutuhan sekunder diri sendiri. Etika pengasuhan memandang bahwa manusia tidak berada di puncak hirarki alam. Alam dititipkan untuk dirawat dan diasuh, sehingga dapat diwariskan ke generasi berikut, dalam keadaan lebih baik atau sekurang-kurangnya tidak lebih buruk.

            Para etikawan perempuan mengartikulasikan kebajikan pengasuhan itu ke dalam apa yang disebut etika kepedulian (the ethics of care). Judith White menguraikan bahwa etika kepedulian itu pun mula-mula bertumbuh dalam konteks hubungan domestik atau hubungan antarmanusia dalam hidup berumah tangga. Masih menurut Judith White, etika kepedulian itu kini merambah ke wilayah etika terapan lain, utamanya etika bisnis dan etika lingkungan.

            Dalam artikelnya, “Feminist Ethics and Workplace Values” (1992), MC Raugust --- seorang etikawan perempuan --- mengajukan tujuh karakteristik etika kepedulian itu;

            Pertama, prioritas utama dari etika kepedulian ialah hubungan kepedulian (caring relationship), hubungan silih asih, silih asah, silih asuh dengan orang lain, bukan usaha mengepalkan tinju untuk merebut dan mempertahankan hak-hak individu.

            Kedua, hasil terpenting dari perilaku etis ialah kenyataan bahwa seorang tertentu dalam situasinya yang konkret dapat menerima dan memberikan kepedulian itu.

            Ketiga, yang digarisbawahi ialah interdependensi dan bukan individualisme. Kenyataan bahwa kita harus saling memberi dan menerima harus lebih diutamakan dibandingkan hak seseorang untuk menerima kebaikan orang lain.

            Keempat, fokusnya ialah “orang lain” yang konkret, bukan “orang lain” dalam pernyataan abstrak, yakni orang lain yang tidak berpribadi dan tidak berwajah.

            Keenam, hubungan antarmanusia dilihat sebagai proses sirkuler bukan linier, sebagai proses langgeng bukannya berjangka pendek, sebagai proses mengamini dan bukannya mengubah.

            Ketujuh, kebajikan (virtue) dijunjung tinggi lebih dari kewajiban untuk berlaku adil (justice). Dalam etika kepedulian, eksploitasi dan tindakan merugikan orang lain wajib dihindari.

            Judith White sendiri menambahkan, bahwa pada etika kepedulian itu, perasaan sama sahnya dengan pikiran, intuisi berharga sama dengan intelektualitas. Tetapi, perasaan di sini bukanlah perasaan yang berhenti menjadi melankoli, melainkan perasaan peduli yang diikuti dengan tindakan peduli. Seorang ibu yang menyayangi anaknya akan mengekspresikan rasa sayangnya ke dalam tindakan-tindakan. Dan tindakan-tindakan peduli itu memerlukan kompetensi. Etika pengasuhan atau etika kepedulian tanpa dibarengi kompetensi malah dapat menimbulkan kerugian (do harm) pada orang lain yang dipedulikan dan diasuh. Tanpa pengasuhan dan tanpa kompetensi, manusia akan terjerumus ke dalam “perang semua melawan semua” (the war of every man against every man).



Disari ulang dari tulisan Alois A. Nugroho

PENDIDIKAN DALAM DINAMIKA GLOBALISASI

             Seperti kata Charles Dickens, it’s the best of times and the worst of times (ini adalah masa paling baik sekaligus masa paling buruk). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dinikmati, tetapi kemajuan itu beriringan dengan kesengsaraan banyak anak manusia.

            Mendefinisikan globalisasi tidaklah mudah karena berbagai parameternya yang kontroversial. Sebagai kekuatan dominan, globalisasi telah membentuk lingkungan budaya dan peradaban, baik secara positif maupun negatif. Di balik segala kerancuan dalam definisi dan perannya, globalisasi telah membawa berbagai dampak besar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Maka dari itu, beberapa tema kunci dalam teori dan pengalaman globalisasi perlu diurai sebagai latar belakang untuk memahami dampak globalisasi pada pendidikan dan arah pendidikan selanjutnya.

            Digerakkan oleh kekuatan ekonomi dan dipacu komunikasi dan teknologi, globalisasi menghubungkan individu dan institusi di seluruh dunia dengan tingkat keterkaitan dan kecepatan yang luar biasa. Anthony Giddens menjelaskan globalisasi sebagai intensifikasi relasi sosial di seluruh dunia yang menghubungkan lokalitas yang berjauhan sehingga kejadian-kejadian lokal dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain.

Istilah globalisasi sering digunakan untuk menggambarkan penyebaran dan keterkaitan produksi, komunikasi dan teknologi di seluruh dunia. Penyebaran ini melibatkan kompleksitas kegiatan ekonomi dan budaya.          

            Globalisasi mempunyai dimensi ekonomis, politis, kultural dan sosial. Ada tiga tema kunci dalam wacana dan pengalaman globalisasi:

1.      Delokasi dan Lokasi
2.      Invasi Teknologi Informasi
3.      Kebangkitan Korporasi Multinasional dan Privatisasi dan Pembentukan Pasar Bebas

1.                                                1. Delokasi dan Lokasi
            Satu paradoks dalam proses globalisasi adalah transformasi budaya lokal dalam segala aspek, sebagai akibat interaksi dengan budaya asing dan adopsi unsur-unsur dari budaya asing menjadi bagian budaya lokal. Contoh sederhana, orang Indonesia usia 50 tahun ke atas yang terbiasa makan nasi pecel, rawon, dan nasi uduk, burger McDonald’s terasa amat asing dan tidak nikmat. Namun bagi anak-anak muda, McDonald’s sudah menjadi makanan favorit. Sebaliknya, McDonald’s pun melakukan upaya melokasi produknya sesuai budaya setempat. Di Indonesia, McDonald’s menjual paket nasi. Di Singapura ada paket kiatsu. Di China, McDonald’s menyediakan sup hangat dan sumpit. Padahal di negara asalnya, tambahan-tambahan itu tidak ada.

            Salah satu gejala delokasi dalam pendidikan adalah penggunaan bahasa. Di Indonesia, bahasa Inggris resmi diajarkan dalam kurikulum, mulai dari kelas 1 sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Namun di daerah perkotaan, banyak sekolah mengajarkan bahasa Inggris sejak kelas I SD. Bahkan, taman kanak-kanak (TK) dan kelompok bermain tidak mau ketinggalan mengajarkan bahasa Inggris. Beberapa sekolah “unggulan” mengklaim penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Untuk memenuhi klaim ini, sekolah-sekolah ini sampai merekrut guru-guru asing, bukan hanya untuk mengajar bahasa Inggris tetapi juga untuk berbagai mata pelajaran lain. Guru-guru asing ini biasanya didatangkan dari Amerika Serikat, Australia, Singapura, Filipina, India, dan negara-negara di Eropa Barat.

            Belajar bahasa Inggris di SD dan menengah memenuhi tiga tujuan. Pertama, siswa perlu menyiapkan diri agar bisa membaca buku teks dalam bahasa Inggris di perguruan tinggi. Kedua, kemampuan bahasa Inggris juga masih digunakan sebagai faktor penentu untuk mendapatkan posisi dan imbalan menarik dalam lapangan pekerjaan. Banyak iklan lowongan pekerjaan mencantumkan kemampuan bahasa Inggris sebagai salah satu persyaratan utama. Ketiga, kemampuan bahasa Inggris juga digunakan sebagai penanda sosial yang berfungsi sebagai garis pemisah dalam interaksi sosial di antara kelas-kelas ekonomis dan kultural yang berbeda di masyarakat.

            Bahasa mewakili sekaligus membangun realitas sosial, memposisikan manusia dan menciptakan identitas dan relasi. Penggunaan bahasa Inggris (dan akhir-akhir ini bahasa Mandarin) di sekolah merupakan bagian dari strategi pemasaran banyak sekolah untuk merebut minat calon siswa dalam era persaingan global yang sudah melanda dunia pendidikan.

Ada korelasi positif antara kadar penggunaan bahasa Inggris di sekolah dan biaya sekolah (baik uang sumbangan masuk ataupun bulanan). Sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar biasanya mengenakan biaya amat tinggi dengan dalih penggajian guru-guru asing yang lebih tinggi dibandingkan dengan guru-guru lokal. Lebih menarik lagi, mentalitas pascakolonialisme juga tampak pada pemilahan asal negara guru-guru asing. Penghargaan (baik secara finansial maupun nonmaterial) yang diberikan pihak sekolah maupun stakeholders sekolah (orangtua dan siswa) kepada guru-guru bule (yang berasal dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia) cenderung lebih tinggi daripada yang diberikan kepada guru-guru nonbule (Filipina dan India).

            Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar juga berkaitan erat dengan adopsi kurikulum asing di Indonesia. Beberapa produk kurikulum dan ujian dari luar negeri yang sudah (atau pernah dijajaki untuk) dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia yang mengklaim diri sebagai sekolah internasional, semi-internasional, atau nasional plus adalah IB (International Baccalaureate), O dan A Level (Cambridge Examination), VCE (Victoria Certificate of Education), dan NSW HSC (New South Wales High School Certificate). Kurikulum IB dikelola oleh IBO (Organisasi Bakalaureat Internasional/ International Baccalaureate Organization) yang berpusat di Jenewa, Swiss.

 Untuk menjadi sekolah IB, ada proses pengajuan, penilaian, dan akreditasi yang cukup serius dan mahal. Sekolah harus mengirim guru-gurunya untuk mengikuti berbagai pelatihan di luar negeri, membeli buku-buku impor untuk siswa, dan mendatangkan tim penilai dari IBO untuk meninjau apakah sekolah itu sudah pantas menjadi sekolah IB. Akhirnya, siswa harus menempuh ujian yang diselenggarakan IBO.

            Ada enam kelompok mata pelajaran dan ujian yang ditawarkan program diploma IB: kelompok Bahasa Ibu (Bahasa Indonesia), kelompok Bahasa Inggris, kelompok Individu dan Masyarakat (Misalnya manajemen bisnis, psikologi) kelompok Ilmu Pengetahuan Eksperimental (misalnya biologi, kimia), kelompok Matematika, dan Kelompok Seni dan Pilihan (misalnya, seni teater). Siswa harus mengambil satu mata pelajaran dari masing-masing kelompok dan di akhir jenjang akan diuji dengan skala 1-7.
            Selain itu, setiap siswa harus mengambil mata pelajaran Teori Pengetahuan (Theory of Knowledge),  menulis esai 4.000 kata, dan melakukan program CAS (Creativity, Action, and Service/Kreativitas, Aksi, dan Pelayanan), dan bisa mendapatkan tambahan 3 poin. Angka sempurna untuk ujian IB adalah 45. Untuk bisa mendapatkan diploma, siswa harus mendapatkan minimal 24 poin. Jika tidak, siswa hanya akan mendapatkan sertifikat. Seperti McDonald’s yang menyediakan paket nasi untuk menyesuaikan dengan selera lokal, program IB pun menyisakan ruang untuk muatan lokal berupa mata pelajaran bahasa Indonesia dan program CAS.

2. Invasi Teknologi Informasi
            Era industrialisasi kini berganti dengan era informasi. Laju informasi yang beredar sudah tidak bisa dikendalikan, dari sisi jumlah, jenis dan dampaknya. Melalui berbagai media elektronik (televisi, internet dengan segala macam variannya), anak-anak diserbu oleh informasi secara dahsyat. Informasi memang bermanfaat dan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi pada saat bersamaan bisa merusak anak karena mengandung banyak unsur yang tidak sesuai untuk konsumsi anak (misalnya kekerasan dan pornografi).

            Maka dari itu, diperlukan keterampilan hidup dalam mencari, menjaring, memilah, dan memanfaatkan informasi dengan benar untuk kepentingan pemelajaran. Praktik-praktik di sekolah berdasarkan pendiktean, penghafalan dan indoktrinasi sudah tidak sesuai zamannya. Kesempatan menjelajahi kehidupan melalui proses pencarian dan penemuan di sekolah menjadi penting.

            Penguasaan komputer dan internet merupakan salah satu keterampilan hidup. Siswa/mahasiswa perlu dikondisikan dan diberi kesempatan untuk menguasainya. Beberapa sekolah dan perguruan tinggi memang sudah menyediakan sarana/prasarana teknologi informasi.

            Implikasi dari inovasi teknologi adalah, batasan antara pendidikan formal, informal, dan nonformal menjadi kabur. Kini tersedia banyak situs yang menawarkan program atau modul pemelajaran yang dapat diakses dengan mudah. Pemelajaran dunia maya --- yang kadang dimanfaatkan oleh segelintir sekolah --- tidak mengenal batasan formal dan nonformal.

2.   Kebangkitan Korporasi Multinasional
            Pendidikan sudah menjadi komoditas yang makin menarik. Sekarang ini, pendidikan sudah dikelola menyerupai industri. Seolah-olah semua orang bercita-cita mendirikan sekolah sebagai tempat untuk bisnis. Artinya, seseorang atau lembaga membisniskan sekolah karena mengetahui masyarakat membutuhkan pendidikan, mulai dari tingkat kelompok bermain hingga ke perguruan tinggi.

            Pembiayaan pendidikan menunjukkan gejala industri. Semakin mahal suatu sekolah, justru semakin laku. Semakin sekolah dikatakan plus, unggulan, atau berbau internasional, orang semakin tergiur untuk memasukinya. Bahkan pemain-pemain kalangan bisnis mengalihkan perhatian dan investasi mereka pada industri persekolahan. Sekolah-sekolah nasional di kota-kota besar di Indonesia dimiliki pebisnis tingkat nasional dan didirikan dengan mengandalkan jaringan multinasional berupa adopsi kurikulum dan staf pengajar asing.

            Seperti layaknya perusahaan, banyak lembaga pendidikan mempunyai tim khusus pemasaran (marketing), meskipun mereka masih sungkan menggunakan istilah marketing. Umumnya, tim ini bekerja dengan bendera humas, tim informasi studi atau biro informasi. Tim ini bekerja melakukan pembenahan internal, merancang media, dan mengkoordinasi dosen dan wakil mahasiswa untuk kegiatan promosi.

            Kegiatan promosi dilakukan di dalam dan diluar negeri. Seleksi tes bisa dilakukan di kota yang dikunjungi. Kini adalah era sekolah berburu konsumen. Setiap tahun pameran pendidikan mendatangkan tim pameran dari sekolah-sekolah di Australia, Selandia Baru, Kanada, Singapura, dan China dan berupaya menjaring siswa/mahasiswa dari Indonesia.

            Berkurangnya tanggungjawab pemerintah dalam pembiayaan pendidikan mengarah pada gejala privatisasi pendidikan. Dikotomi sekolah negeri dan swasta menjadi kabur dan persaingan antarsekolah semakin seru. Privatisasi pendidikan mengakibatkan pemisahan (segregasi) siswa berdasarkan status sosio-ekonomi. Sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang baik akan lebih banyak mempunyai keleluasaan untuk membenahi diri, sementara sekolah yang miskin akan terjerumus dalam kebangkrutan.

Ke mana Arah pendidikan Indonesia?
            Pandangan pragmatis mulai muncul di masyarakat. Orientasi pendidikan bukan dimaksudkan untuk menghasilkan anak yang baik tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan praktis. Anak dimasukkan ke sekolah bergengsi dengan berbagai atributnya dan dipacu mendapatkan nilai bagus agar kelak bisa mendapat pekerjaan atau relasi yang bagus. Dalam dinamika globalisasi, anak-anak bangsa tercecer dalam berbagai sekolah yang beragam menurut latar belakang sosio-ekonomi yang berbeda.

            Negara belum mampu memberikan kesempatan yang adil bagi semua anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan bermutu, setidaknya sampai saat ini, mulai dari pendidikan dasar sampai pada pendidikan tinggi. Muncul pertanyaan, ke mana arah pendidikan di Indonesia?

            Pendidikan dimaksudkan untuk menyiapkan anak-anak bangsa untuk menghadapi masa depan dan menjadikan bangsa ini bermartabat di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Masa depan yang selalu berkembang, menuntut pendidikan untuk selalu menyesuaikan diri dan menjadi lokomotif proses demokratisasi dan pembangunan bangsa. Pendidikan yang menjadi budak sistem politik masa kini telah kehilangan jiwa dan kekuatan untuk memastikan reformasi bangsa sudah berjalan sesuai tujuan dan jalur yang tepat.

            Dalam konteks globalisasi, pendidikan di Indonesia perlu membiasakan anak-anak memahami eksistensi bangsa dalam kaitan eksistensi bangsa-bangsa lain dan segala persoalan dunia. Menutup diri dan menghalangi masuknya pengaruh asing adalah hal yang tidak mungkin. Meskipun demikian, tidak berarti kita membiarkan diri hanyut dan larut dalam arus dunia dan menerima segala pengaruh asing. Persis yang diingatkan oleh Mahatma Gandhi, “Saya tidak ingin rumah saya ditembok pada semua bagian dan jendela saya ditutup. Saya ingin budaya-budaya dari semua tempat berhembus di seputar rumah saya sebebas mungkin. Tetapi, saya tetap menolak untuk terbawa dan terhempas”.

Disadur dari tulisan Anita Lie

Mei 15, 2011

HARI INI BELUM BERAHIR DAN MASIH ADA HARI ESOK, JANGAN PERNAH BERHENTI BERHARAP -_-

kuliah itu seperti taman
kanak-kanak
anak yang aktif maka
akan dapat bahagia
anak yang tidak aktif
maka akan merenung /
hanya terdiam
mata kuliah ibarat
permainan
anak yang banyak
bermain maka akan lebih
bahagia
dan anak yang menguasai
permainan maka akan
lebih terlihat senang dan
tentunya menyenangkan
dirinya
40% banding 60%
40% untuk dasar ilmu
yang kau dapat di
perkuliahan
60% ilmu yang kau dapat
dari hasil kerja payah mu
ya kalo 40% saja sudah
tidak serius dasarpun tak
dapat, apalagi yang 60%,
yang bisa dilakukan
hanya menyesali
namun apalah gunanya
menyesali ? cukup
pikirkan lagi apa saja
yang membuatmu
menyesal dan berusaha
untuk memperbaikinya
HARI INI BELUM BERAHIR
DAN MASIH ADA HARI
ESOK, JANGAN PERNAH
BERHENTI BERHARAP
ini hanya untaian kata !!!
sisanya kaulah yang
membuktikan pada dunia
SESAL !!! MERASA GA ADA
MANfAAT !!! terlambat !
namun untuk
memperbaiki tidak ada
kata terlambat
bukan ???!
anda lebih tau dari pada
saya, LIVE IS NEVER FLAT
semangat kawan :-)

April 24, 2011

Faktor Yang Mempengaruhi Diterima Atau Tidaknya Suatu Unsur Kebudayaan

Berikut ini merupakan faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan :

1. Terbiasanya masyarakat tersebut mempunyai hubungan/kontak kebudayaan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut, yang mempunyai kebudayaan yang berbeda. Sebuah masyarakat yang terbuka bagi hubungan-hubungan dengan orang yang beraneka ragam kebudayaannya, cenderung menghasilkan warga masyarakat yang bersikap terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan asing. Sikap mudah menerima kebudayaan asing lebih-lebih lagi nampak menonjol kalau masyarakat tersebut menekankan pada ide bahwa kemajuan dapat dicapai dengan adanya sesuatu yang baru, yaitu baik yang datang dan berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, maupun yang berasal dari kebudayaan yang datang dari luar.

2. Kalau pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam kebudayaan tersebut ditentukan oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama; dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada dalam masyarakat tersebut; maka penerimaan unsur-unsur kebudayaan yang baru atau asing selalu mengalami kelambatan karena harus di sensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan pada ajaran agama yang berlaku. Dengan demikian, suatu unsur kebudayaan baru akan dapat diterima jika unsur kebudayaan yang baru tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama yang berlaku, dan karenanya tidak akan merusak pranata-pranata yang sudah ada.

3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan unsur kebudayaan baru. Suatu struktur sosial yang didasarkan atas sistem otoriter akan sukar untuk dapat menerima suatu unsur kebudayaan baru, kecuali kalau unsur kebudayaan baru tadi secara langsung atau tidak langsung dirasakan oleh rezim yang berkuasa sebagai sesuatu yang menguntungkan mereka.

4. Suatu unsur kebudayaan baru dengan lebih mudah diterima oleh suatu masyarakat kalau sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut. Di pedesaan di pulau Jawa, adanya sepeda sebagai alat pengangkut dapat menjadi landasan memudahkan di terimanya sepeda motor di daerah pedesaan di Jawa; dan memang dalam kenyataan demikian.

5. Sebuah unsur baru yang mempunyai skala kegiatan yang terbatas dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan, dibandingkan dengan sesuatu unsur kebudayaan yang mempunyai skala luas dan yang sukar secara konkrit dibuktikan kegunaannya. Contohnya adalah diterimanya radio transistor dengan mudah oleh warga masyarakat Indonesia, dan bahkan dari golongan berpenghasilan rendah merupakan benda yang biasa dipunyai.

Penyebab Terjadinya Perubahan Kebudayaan

Perubahan sosial dan kebudayaan di masyarakat dapat terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari masyarakat sendiri atau yang berasal dari luar masyarakat.

a . Sebab-Sebab yang Berasal dari Dalam Masyarakat (Sebab Intern)

     Berikut ini sebab-sebab perubahan sosial yang bersumber dari dalam masyarakat (sebab intern)
1) Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk.
2) Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention).
3) Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.
4) Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.

b . Sebab-Sebab yang Berasal dari Luar Masyarakat (Sebab Ekstern)

     Perubahan sosial dan kebudayaan juga dapat terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat (sebab ekstern). Berikut ini sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat.

1) Adanya pengaruh bencana alam. Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya.
2) Adanya peperangan, baik perang saudara maupun perang antarnegara dapat me-nyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah.
3) Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Jika suatu kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut.

sumber :http://afajrianaj.tumblr.com/

April 17, 2011

Apa pacaran kini sudah menjadi budaya? dan apa pengaruhnya?

Kini hampir semua anak remaja sudah mengenal akan istilah “pacaran”, bahkan anak yang duduk di bangku sekolah dasarpun tidak sedikit yang sudah mengenal istilah ini, bagi sebagian dari mereka jika tidak mempunyai pacar maka dia anggap katro,ketinggalan zaman,ga laku, dan masih banyak istilah-istilah yang lainnya.hahhaha namun itu bergatung pada dirinya masing-masing. Adapun yang beranggapan bahwa mempunyai seorang pacar dapat menjadikan motivas dalam belajar dan menjalani aktivitas, tentunya alasan ini banyak di gunakan oleh kalangan anak pelajar. memang terkadang seorang pacar dapat menjadi sebuah motivasi untuk mendongkrak prestasi kita, misalnya saja prestasi kita yang tadinya jelek,kini berubah menjadi lebih baik karena semangat dan dukungan seorang pacar.
Namun nyatanya banyak juga yang mengalami hal sebaliknya,seorang anak yang tadinya mendapatkan prestasi gemilang tiba-tiba mengalami penurunan yang segnifikan karena sibuk mengurusi pacarnya. Disinilah letak objek yang menjadi hambatan. Bukan hal itu saja yang menjadi masalah karena sudah mengenal istilah “pacaran”. Defresi menjadi salah satu masalah yang disebabkan karena pacaran juga. Kasus ini sering kita dapatkan pada mereka yang mengalami kegagalan dalam menjaga kesetiaan akan seorang pacarnya. Dan yang paling parah adalah sex bebas. Kaum remaja sekarang tidak sedikit mengenal sex bebas akibat dari pacaran. Berawal dari penasaran dan berujung mencoba.dan letak objeknya biasanya adalah seorang pacar. Inilah yang patut menjadi perhatian bagi orang tua. disinalah orang tua harus dapat berperan aktif dalam membingbing anaknya. karena banyak kasus ini yang di sebabkan oleh kurangnya perhatian dari kedua orangnya. tentunya selain dari pergaulan juga. namun jika peranan orang tua lebih aktif diyakini oleh sebagian psikolog dapat mencegah terjadinya sex bebas. :)

Akankah kita baru berontak setelah Budaya kita diklaim negara lain???

Batik merupakan suatu kebudayaan yang menjadi citra bagi bangsa indonesia. kadang kita bertanya “awal mula batik itu kapan si?” secara historis batik berasal dari zaman nenek moyang yang di kenal sejak abad XVII (zaman majapahit) yang ditulis dan dilukis pada daun lontar .awalnya pola batik masih di dominasi dengan bentuk bintang dan tanaman. Namun kini berkembang pada motif abstrak, seperti relief candi,wayang,dsb.“Bukan Cuma budaya bangsa indonesia loh”, batik juga merupakan kesenian bangsa,mungkin dikarenakan penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian tulis ini batik menjadi seni.
Budaya setiap daerah menjadikan jenis dan corak batik menjadi beragam, disinilah setiap daerah mempunyai kekhassannya tersendiri.”tau ga si kalian? Kalo batik menjadi salah satu kebudayaan raja-raja indonesia zaman dahulu”.ini berawal karena batik hanya dikerjakan di dalam kraton saja dan digunakan untuk keluarga raja beserta antek-anteknya. Karena para pengikutnya ini banyak yang meninggalkan kerajaan, maka kesenian batik ini di bawa oleh mereka dan dikerjakan di tempatnya masing-masing disinilah mulai meluasnya kerajinan batik. Sampai akhirnya batik menjadi salah satu pakaian yang di gemari masyarakat baik pria maupun wanita.
Batik yang asli terbuat dari bahan kain putih yang digunakan dari hasil tenunan sendiri,bahan-bahan pewarnanya juga terbuat dari tanaman asli indonesia seperti,mengkudu,tinggi,nila,soga,dan bahan sodanya terbuat dari soda abu. Serta garamnya terbuat dari lumpur (tapi bukan lumpur lapindo ya?) hahhahha “nah sudah cukup jelaskan mengenai awal mulanya batik?” tentu saja bangsa indonesia berotak saat budaya serta seni mereka di klaim negara tetangga. Dari begitu banyak kebudayaan serta seni bangsa indonesia ini salah satunya adalah batik loh… namun bukan itu saja reog ponorogo dan lagu rasa sayang-sayange juga masih banyak yang lainya”panteskan kalau bangsa indonesia berontak?” hahhaha
Duta besar malaysia untuk indonesia mengungkapkan bahwa batik,reog ponorogo,serta lagu sayang-sayange memang benar-benar ada di malaysia. Nenek moyang malaysia banyak yang berasal dari indonesia,jadi mau tidak mau budaya asal indonesia ada dan hidup di malaysia,mmmmmmm, mungkin alasan ini memang benar kenyataan nya.karena batik di kenal sejak kerajaan majapahit berjaya. Seperti yang kita ketahui, kerajaan majapahit pernah mencapai masa keemasan yang wilayahnya mencapai semenanjung malaya yang kini menjadi bagian negara malaysia.
Ini menjadi PR bagi kita sebagai generasi muda, dan seluruh masyarakat indonesia agar budaya asli kita tidak di akui oleh negara tetangga meskipun budaya kita hidup di negara tetangga,atau negara-negara lain.
“apa memang malaysia iri akan budaya serta seni kita?” sehingga mengklaim budaya kita dengan alasan itu?
“atau bangsa kita sendiri yang lalai akan pentingnya melestarikan budaya nenek moyang kita?”
Hmmmmhmmmm
ini juga merupakan suatu pembelajaran bagi bangsa kita agar tidak lalai akan pentingnya melestarikan budaya nenek moyang kita sendiri, jangan sampai negara lain mengklaimnya terlebih dahulu baru kita berontak. Karena budaya adalah simbol suatu negara ,jika budaya sudah di permainkan itu sama saja menginjak-nginjak harga diri bangsa hoohoh

sumber : www.batikmarkets.com dan www.detiknews.com

Batik Paseban Kuningan

Batik Paseban Cigugur Kuningan, keberadaannya semakin menampakan jati dirinya. Selama enam tahun sebuah penelusuran yang panjang dilakukan oleh P.Djatikusumah untuk menghidupkan kembali warisan leluhurnya.
Pangeran Djatikusumah melakukan penelusuran batik Paseban yang dianggap punah. lewat pendalaman jiwa seninya yang ditemukan melalui ukir dan relief . Jika dicermati batik Paseban memiliki karakter yang berbeda dengan batik yang telah ada di Jawa Barat, khususnya Garut dan Cirebon yang terkenal dengan motif Wadasan.
Dia memprakarsai penelusuran ini karena panggilan jiwa seninya dan tanggungjawab terhadap warisan budaya batik yang telah menjadi kebanggaan dunia.
"Kami selain menjaga dan melestarikan milik leluhur, juga menjaga asset bangsa ini, agar anak-anak kita paham kalau kita memiliki kekayaan budaya,"
Menurut dia, proses ini dilakukan sejak tahun 2003 dengan menggali dan meng-eksplorasi batik-batik itu dan terkumpul sebanyak 200 motif batik Paseban.
Motif-moif yang telah direproduksi dari hasil penggaliannya diantaranya, Mayang Segara, Geger Sunten, Oyod Minggang, Aduh Manis,Rereng Pwah Aci, Sekar Galuh dan Rereng Kujang.
Dikatakan, batik masih mendapat tempat di hati masyarakat, terlebih wisatawan mancanegara maupun domestik dan pemerhati batik merasa tertarik dengan batik Paseban. Hal itu setelah beberapa kali mengadakan promosi seperti pameran-pameran.
"Promosi kami bukan seperti pengusaha batik yang mapan kang, tapi kami yakin, bahwa ini adalah warisan budaya bangsa yang perlu untuk diperkenalkan kembali khususnya kepada masyarakat Kuningan," tutur Tati, salah seorang putri P. Djatikusumah.
Walau dalam skala kecil, batik Paseban memiliki prospek usaha yang signifikan, hal ini ditunjang oleh pengrajin kaum ibu serta masyarakat. Bahkan ada yang dikerjakan di rumah masing-masing.
Pengerjaan batik berawal dari merancang desain, kemudian melukiskannya pada selembar kain putih baik Prima Sima maupun Primis Sima, kemudian dilakukan merengreng atau melukis dengan malam di atas kain.
Tahap berikutnya menutup atau nembok, proses ini berkaitan dengan pewarnaan. Setelah proses ini, kemudian dilanjutkan pencelupan kain yang telah tertutup malam secara keseluruhan.
"Tahap demi tahap yang rumit ini jika tidak dilakukan dengan cermat dan teliti, akan menemukan ketidak sempurnaan pada hasil akhir dari proses pembatikan yang dilakukan secara manual (tradisional). Memang di sanalah keindahan sebuah batik tulis," papar Tati.
Batik sebagai warisan budaya, keberadaannya sangat strategis karena berkaitan dengan industri kain, juga tata busana. Sebagai hasil industri, batik memliki nilai startegis karena mampu menyerap tenaga kerja.
"Pada sisi lain batik mempuyai nilai historis yang tolok ukurnya pada rasa kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki nilai budaya yang adiluhung. Sebagai milik bangsa batik tentunya memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat kita," kata Tati..
Nilai budaya serta kesakralan saat orang memakai busana motif batik menaikan citra tersendiri. Batik Paseban setahap demi setahap sampai pada tujuan akhirnya yaitu meramaikan perbatikan Nasional.
Terlebih dengan kemunculan di Cikeas-Bogor dalam acara Pameran Pengrajin yang dihadiri oleh Ibu Ani Yudhoyono beberapa waktu yang lalu. Batik Paseban telah mewarnai peta perbatikan di tanah air.

sumber:  http://bisniscirebon.blogspot.com/2008/12/batik-paseban-kuningan-jabar.html

Kabupaten Kuningan


Kabupaten Kuningan terletak pada titik koordinat 108° 23' - 108° 47' Bujur Timur dan 6° 47' - 7° 12' Lintang Selatan. Sedangkan ibu kotanya terletak pada titik koordinat 6° 45' - 7° 50' Lintang Selatan dan 105° 20' - 108° 40' Bujur Timur.
Dilihat dari posisi geografisnya terletak di bagian timur Jawa Barat berada pada lintasan jalan regional yang menghubungkan kota Cirebon dengan wilayah Priangan Timur dan sebagai jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan Bandung-Majalengka dengan Jawa Tengah. Secara administratif berbatasan dengan:
̢ۢ Sebelah Utara : Kabupaten Cirebon
̢ۢ Sebelah Timur : Kabupaten Brebes (Jawa Tengah)
̢ۢ Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah)
̢ۢ Sebelah Barat : Kabupaten Majalengka
Kabupaten yang berada di ujung timur jawa barat.mungkin bagi sebagian orang jarang yang mengenal kabupaten ini :) namun, sejarah mencantumkan kuningan sebagai salah satu tempat untuk memperjuangan indonesia menggapai kemerdekaan, karena di tempat inilah tepatnya 10-13 Nov 1946.sutan syahrir sebagai perwakilan dari indonesia, schermerhorn, h.j. van mook dari belanda, dan lord killearn perwakilan dari inggris yang bertindak sebagai moderator.merundingkan agar indonesia bisa merdeka 100%, sebab secara de facto yang diakui baru Pulau Jawa dan Sumatera. Sedangkan Belanda tetap menganggap dirinya sebagai negara pemegang penuh kedaulatan atas Indonesia.dan kemudian perundingan ini kita kenal sebagai perundingan linggarjati. karena terletak di desa linggajati, kecamatan cilimus, kabupaten kuningan, jawa barat. kurang lebih 25 km dari cirebon.

Selain ditinjau dari sejarahnya, ternyata banyak sekali kesenian serta budaya yang dimiliki kota kuda tersebut. misalnya saja seren taun,sintren,cingcowong, pencak silat bima suci,batik paseban, museum cipari, dan masih banyak yang lainnya :), sebagai kabupaten yang cinta akan seni dan budaya asli indonesia kuningan berupaya melestarikannya dengan menerapkannya terhadap generasi muda, yanki dengan diadakannya ekstrakulikuler non academic maupun academic di setiap sekolah, seperti yang ada di sman 3 kuningan. sma 3 kuningan atau yang lebih di kenal dengan smantika menerapakan sistem pendidikannya bukan hanya di bidang academic saja namun seni pun di jungjung tinggi karena seni merupakan jiwa dari suatu bangsa. kreativitas pelajar smantika ini dapat kita lihat di warung seni sman3kuningan. selain itu untuk tetap mengupayakan generasi muda melestarikan seni budaya asli indonesia sanggar seni dnr juga turut serta dalam membimbing para pelajar kuningan.

Untuk obyek wisata yang diimiliki kuningan, tidak kalah dengan kabupaten-kabupaten lain. kuningan memiliki banyak obyek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi misalnya saja : museum perundingan linggarjati, taman rekrasi linggar jati indah, cibulan,waduk darma, musem taman purbakala cipari, pemandian air panas sangkanurip, goa maria, balong darmaloka.


:) silahkan berkunjung ke kota kami :)

Seren Taun


Upacara seren taun adalah ungkapan syukur dan do’a masyarakat sunda atas suka duka yang mereka alami terutama di bidang pertanian selama setahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang. Seren taun dilaksanakan setiap tanggal 22 Bulan Rayagung sebagai bulan terakhir dalam perhitungan kalender sunda. Selain ritual-ritual yang bersifat sakral, digelar juga kesenian dan hiburan. Dengan kata lain kegiatan ini merupakan hubungan antara manusia dengan tuhan, dan juga dengan sesama mahluk atau alam baik lewat kegiatan kesenian, pendidikan, dan sosial budaya.

Upacara Seren Taun diawali dengan upacara ngajayak ( Menjemput Padi ), pada tanggal 18 Rayagung yang dilanjutkan dengan upacara penumbukan padi dan sebagai puncak acaranya pada tanggal 22 Rayagung. Ngajayak dalam bahasa sunda berarti menerima dan menyambut, sedangkan bilangan 18 yang dalam bahasa sunda diucapkan “dalapan welas” berkonotasi welas asih yang artinya cinta kasih serta kemurahan Tuhan yang telah menganugerahkan segala kehidupan bagi umat-Nya di segenap penjuru bumi.
Puncak acara Seren Taun berupa penumbukan padi pada tanggal 22 Rayagung juga memiliki makna tersendiri. Bilangan 22 dimaknai sebagai rangkaian bilangan 20 dan 2. Padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali kepada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih. Bilangan 20 merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia.
Baik laki-aki ataupun perempuan memiliki 20 sifat wujud manusia, adalah : 1. getih atau darah, 2. daging, 3. bulu, 4. kuku, 5. rambut, 6. kulit, 7. urat, 8. polo atau otak, 9. bayah atau paru, 10. ari atau hati, 11. kalilipa atau limpa, 12. mamaras atau maras, 13. hamperu ataun empedu, 14. tulang, 15. sumsum, 16. lamad atau lemak, 17. gegembung atau lambung. 18. peujit atau usus. 19. ginjal dan 20. jantung.
Ke 20 sifat diatas menyatukan organ dan sel tubuh dengan fungsi yang beraneka ragam, atau dengan kata lain tubuh atau jasmani dipandang sebagai suatu struktur hidup yang memiliki proses seperti hukum adikodrati. Hukum adikodrati ini kemudian menjelma menjadi jirim ( raga ), jisim ( nurani ) dan pengakuan ( aku ). Sedangkan bilangan 2 mengacu pada pengertian bahwa kehidupan siang dan malam, suka duka, baik buruk dan sebaginya.
Dalam upacara seren taun yang menjadi objek utama adalah PADI. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran karena daerah Cigugur khususnya dan daerah sunda lain pada umumnya merupakan daerah pertanian yang berbagai kisah klasik satra sunda, seperti kisah Pwah Aci Sahyang Asri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning Langit yang turun ke bumi. Dalam upacara seren taun inilah dituturkan kembali kisah-kisah klasik pantun sunda yang bercerita tentang perjalanan Pwah Aci Sahyang Asri. Selain itu, padi merupakan sumber bahan makanan utama yang memiliki pengaruh langsung pada ke-20 sifat wujud manusia diatas.
Dalam kesempatan Upacara Seren Taun kali ini menampilkan, Damar Sewu merupakan sebuah helaran budaya yang mengawali rangkaian upacara adat seren taun Cigugur. Merupakan gambaran manusia dalam menjalani proses kehidupan baik secara pribadi maupun sosial. Tari Buyung yang merupakan tarian adat sunda yang mencerminkan masyrakat sunda dalam mengambil air, Pesta Dadung merupakan upacara sakral masyarakat dilaksanakan di Mayasih yang merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan antara positif dan negatif di alam, jadi pesta dadung merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak menggangu kehidupan manusia.
Ngamemerokeun merupakan upacara sakral didalam tradisi Sunda Wiwitan yang masih dilaksanakan di daerah Kanekes ( Baduy ). Upacara ini berintikan “ mempertemukan dan mengawinkan “ benih padi jantan dan betina. Selanjutnya Tarawangsa yakni seni yang berasal dari mataram kira-kira abad ke XV, seni Tarawangsa disebut juga seni jentreng, menginduk kepada suara kecapi, juga ada yang menamai seni ngekngek, menginduk kepada suara tarawangsa. Mula-mula yang dipentaskan hanya tabuhan kecapi dan tarawangsa saja, tapi disertai penari, agar lebih menarik akhirnya Tarawangsa dilengkapi dengan tarian-tarian sederhana yang disebut tari Badaya.
Pwah Aci atau yang lebih dikenal dengan Dewi Sri merupakan tokoh yang telah melegenda dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat agraris khususnya tatar sunda. Tari Pwah Aci merupakan salah satu seni tari spiritual yang di dalamnya tersirat ungkapan rasa hormat dan bhakti kepada Sang Pemberi Hidup melalui gerak dan ekspresi.
Seribu Kentongan merupakan acara penutup rangkaian acara di bukit Situ Hyang. lebih dari 1000 orang terdiri dari masyarakat dan anak-anak sekolah serta seluruh peserta pendukung rangkaian acara seren taun menuju Paseban Tri Panca Tunggal ditutup dengan 10 orang rampak kendang. Dimulai dengan pukulan induk oleh Ketua Adat kemudian diikuti oleh ribuan peserta. Ini memiliki makna bahwa kentongan awi ( Bambu ) memiliki arti kita harus senantiasa ingat dan eling pada asal wiwitan atau hukum adikodrati yang menentukan nilai kemanusian dan kebangsaan.
Dilihat dari sisi budaya, upacara adat seren taun yang sudah berjalan tahunan di Kabupaten Kuningan ini, tentunya merupakan hal yang dapat dibanggakan oleh masyarakat karena setiap helatan Seren Taun ini dilaksanakan, dapat mendatangkan ribuan pendatang wisatawan domestik maupun mancanegara. Hanya saja dilihat dari sisi ekonomis belum dapat memberikan efek ekonomi kepada masyarakat sekitar.
Sehingga merupakan tugas kita semua, dalam setiap helaran yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini dapat memberikan nilai ekonomi yang fositif kepada masyarakat sekitar. Seperti contoh masyarakat sekitar dapat membuat cendra mata khas Cigugur dan barang-barang yang mempunyai nilai khas sehingga para pendatang mempunyai kenangan tersendiri terhadap upacara seren taun ini dengan membeli barang tersebut.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang hal ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang peningkatan ekonomi masyarakat dan juga meningkatkan dunia pariwisata masyarakat Kabupaten Kuningan. ( Bagian Humas Setda Kabupaten Kuningan).


sumber : http://www.visitkuningan.com/id/index.php?option=com_content&view=article&id=13:what-happened-to-the-locale-setting&catid=30:events&Itemid=65

SINTREN



SINTREN, adalah sebutan kepada peran utama dalam satu jenis kesenian. Tapi akhirnya sebutan itu menjadi satu nama jenis kesenian yang disebut sintren. Sintren sendiri berasal kata sesantrian artinya meniru santri bermain lais, debus, rudat atau ubrug dengan menggunakan magic (ilmu ghaib).
Seni sintren ternyata tidak hanya hidup di daerah Kabupaten Majalengka, Indramayu dan Cirebon. Tapi juga hidup di Desa Dukuhbadag, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan.

Menurut, Udin Sahrudin, tokoh sintren di Desa Dukuhbadag, munculnya seni sintren di Kuningan belum bisa dipastikan. Sebab sampai sekarang belum ada penelitian ilmiah, tapi yang jelas sejak tahun 1930 sudah banyak warga Desa Dukuhbadag yang mengadakan pertunjukan seni sintren terutama pada acara pesta khitanan dan pernikahan.

“Dulu yang pertama kali menjadi pimpinan seni sintren di Desa Dukuhbadag yakni Ibu Warjiah, tapi saya tidak tahu pasti dari mana awal perkembangan seni sintren itu,” kata Udin Sahrudin.

Berdasarkan cerita orang tua dulu, lanjut dia, seni sintren di Dukuhbadag dibawa oleh orang dari daerah lain yang sengaja untuk mencari nafkah yakni sebagai Kukurung. Kukurung merupakan bahasa dialek masyarakat Desa Dukuhbadag yang ditujukan kepada orang yang sedang mecari nafkah dengan cara menjual jasa memanen padi.

Dia menjelaskan, mereka (kukurung) diperkirakan datang dari daerah perbatasan Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan dengan Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Diantaranya saja Desa Cibendung, Cikakak, Karangjunti, Pande, Dukuhjeruk dan Desa Randegan. Ada pula yang datang dari daerah perbatasan Kabupaten Cirebon, diantaranya Desa Tonjong, Cilengkrang, Ciledug, pabuaran, Cikulak dan Desa Leuweunggajah.

Kukurung-kukurung itu datang bukan saja ke Desa Dukuhbadag, tapi ke desa lain di Kecamatan Cibingbin antara lain Desa Bantarpanjang, Cisaat, Citenjo, Cibingbin, Cibeureum dan Desa Tarikolot, bahkan sampai Desa Sukasari dan Tanjungkerta Kecamatan Karangkancana. (Desa Cibeureum dan Desa Tarikolot, kini Kecamatan Cibeureum)

“Untuk melepas lelah, kukurung-kukurug itu mengadakan pertunjukan seni sintren, di halaman rumah warga tanpa mendapat upah dari pemilik rumah, kecuali jamuan alakadarnya,”imbuhnya.

Dikatakan, pertunjukan sintren tidak selamanya memerlukan panggung, mereka bermain di halaman rumah beralaskan tikar, para penabuh gamelan dan juru kawih sambil duduk, sedangkan sintren menari sambil berdiri lemah gemulai mengikuti irama gamelan.

“Konon kabarnya, anak yang sudah dijadikan sintren harus mengalami 21 kali pentas, lebih sempurna 40 kali pertunjukan. Hal ini dipercaya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bagi pribadi sintrennya. Setelah 40 hari biasanya rombongan seni tersebut mengadakan hajatan selamatan agar dijauhkan dari mara bahaya,” paparnya. *

dnrSintren, Seni Tradisi Bernuansa Mistis
Rabu, 16 Desember 2009

SENI tradisi sintren, sebenarnya tidak hanya dimiliki warga Cirebon,
namun juga warga pesisir lainnya dari mulai Subang sampai Pekalongan
Jawa Tengah. Meski sempat redup beberapa tahun belakang, namun saat
ini "nyala api" sintren terlihat mulai kembali.
Sejumlah even dari mulai budaya sampai bisnis seperti pembukaan sebuah
pameran mulai menampilkan seni yang kental dengan nuansa mistis
tersebut.
Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber kalangan seniman tradisi
cirebon, Sintren mulai dikenal pada awal tahun 1940-an. Nama sintren
sendiri tidak jelas berasal dari mana. Namun konon sintren adalah nama
penari yang masih gadis yang menjadi pemain utama dalam pertunjukan
itu.

Budayawan Cirebon Nurdin M. Noor menduga sintren merupakan nama lain
dari dewa Indra Jaya yang dikenal dalam dunia pewayangan. Namun Nurdin
mengakui, tidak tahu kepastiannya karena dugaannya itu hanya
berdasarkan dari alunan syair lagu yang mengiringi pagelaran seni
sintren.

Turun turune sintren,
Sintrene widadari,
Nemu kembang yun ayunan,
Kembange Si Jaya Indra

"Dari alunan syair itu saya menduga, sintren itu perwujudan dewa 
sintren atau nama lain dari dewa Indra Jaya yang masuk ke raga seorang
penari sintren yang harus masih gadis," kata Nurdin.
Menurut Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata
(Disporbudpar) Kota Cirebon Dr. H. Wahyo, M.Pd. berdasarkan cerita
yang turun temurun, asal mula lahirnya sintren sebenarnya permainan
untuk menghilangkan bosan dan menghabiskan waktu.
Permainan itu tercipta dari kebiasaan kaum ibu dan putra-putrinya yang
tengah menunggu suami/ayah mereka pulang dari mencari ikan di laut.

"Dari pada tidur sore-sore, sambil menunggu suami dan bapaknya,
akhirnya tercipta permainan sintren. Namun siapa yang menciptakan
pertama kali, tidak ada sumber yang menyebutkannya. Karena zaman dulu
belum ada hak cipta, sehingga kebersamaan lah yang lebih
dikedepankan," kata Wahyo. Karena sering dimainkan hampir setiap sore
dan akhirnya sintren menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan kaum pesisir. Dalam perkembangannya, sintren menjadi sebuah
permainan penuh nuansa mistis. Pada perkembangan selanjutnya, sintren
dimainkan oleh para nelayan keliling kampung untuk tujuan mencari
uang, dari saweran yang dihasilkan. Dari yang semula hanya untuk
menambah uang dapur, sintren menjadi objek mencari nafkah hidup

Kesenian Sintren terdiri dari para juru kawih/sinden yang diiringi
dengan beberapa gamelan seperti buyung, sebuah alat musik pukul yang
menyerupai gentong terbuat dari tanah liat, rebana, dan waditra lainya
seperti , kendang, gong, dan kecrek.
Sebelum dimulai, para juru kawih memulai melantunkan lagu-lagu yang
dimaksudkan untuk mengundang penonton.

Tambak tambak pawon
Isie dandang kukusan
Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul.

Syair tersebut dilantunkan secara berulang-ulang sampai penonton
benar-benar berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan Sintren. Begitu
penonton sudah banyak, juru kawih mulai melantunkan syair,Kembang
trate
Dituku disebrang kana
Kartini dirante
Kang rante aran mang rana

Kemudian munculah penari sintren yang masih muda belia. Seorang
sintren haruslah seorang gadis. Kemudian sintren diikat dengan tali
tambang mulai leher hingga kaki, yang tidak memungkinkan sintren
dapat melepaskan ikatan tersebut dalam waktu cepat.
Sintren kemudian dimasukan ke dalam sebuah kurungan besar -yang biasa
dipakai untuk mengurung ayam- yang ditutup kain. Selain sintren, dalam
kurungan juga dimasukan pakaian ganti dan sejumlah asesoris seperti
kaca mata hitam.
Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tidak
henti-hentinya membaca mantra-mantra. Asap yang muncul dari bakaran
kemenyan menemani pawang membaca mantra. Bau kemenyan yang menyergap
merupakan aroma yang ikut menamani penonton.
Asap kemenyan terus mengepul, begitu juga juru kawih terus
berulang-ulang nembang,

Gulung gulung kasa
Ana sintren masih turu
Wong nontone buru-buru
Ana sintren masih baru

Yang artinya menggambarkan kondisi sintren dalam kurungan yang masih
dalam keadaan tertidur. Begitu kurungan dibuka, bukanya hanya sintren
sudah bebas dari ikatan, ia bahkan sudah berganti dengan pakaian
penari dan berkaca mata hitam.
Gerakan tari sintren monoton, hanya bergoyang kanan dan kiri sambil
mengibas-ngibaskan selendang merahnya. Para penonton yang
berdesak-desakan pun mulai melempari Sintren dengan uang logam.
Begitu uang logam mengenai tubuhnya, maka Sintren akan jatuh pingsan.
Sintren akan sadar kembali dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh
pawang. (Tim)***

Web: http://iklan.pikiran-rakyat.com/?mib=pradd.artikel.detail&id=235
sanggar seni dnr kab kuningan jln r.e. martadinata
 
thank you for visiting my blog.